Kolaborasi Sukseskan PTM Terbatas

Penerapan protokol kesehatan yang ketat menjadi kunci utama suksesnya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di berbagai daerah. Dibutuhkan kerja sama apik serta komitmen tinggi dari berbagai pemangku kepentingan agar PTM terbatas berjalan dengan lancar, aman, nyaman, tanpa menimbulkan klaster kasus baru. Kepala SMPN 2 Wanadadi, Neti Rochmah Eruwati, mengatakan bahwa pihak sekolah mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah sebelum menggelar PTM terbatas.

“Dinas pendidikan Kabupaten Banjarnegara memberikan izin PTM terbatas secara bertahap. Kalau sekolah kami sendiri mendapatkan izin di tahap kedua. Sebelum memberikan izin, sekolah diminta mengisi sejumlah instrumen yang menggambarkan kesiapan sarana prasarana penunjang PTM terbatas di sekolah. Pengawas dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banjarnegara, Satgas COVID-19 Kecamatan Wanadadi, Puskesmas Kecamatan Wanadadi, serta perwakilan Polsek Wanadadi juga meninjau langsung kesiapan sekolah jelang PTM terbatas,” tutur Neti.

Sebelum kembali membuka PTM terbatas, seluruh peserta didik menjalani tes antigen terlebih dahulu. Pihak sekolah mengaku intens berkomunikasi dengan pihak Puskesmas Kecamatan Wanadadi. Berkat koordinasi erat yang terjalin, 85% peserta didik di SMPN 2 Wanadadi telah mendapatkan vaksin dosis pertama 30 Oktober 2021. Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua dijadwalkan akan diberikan terhitung 21 hari sejak pemberian dosis pertama.

Pihak sekolah juga menyosialisasikan pelaksanaan PTM terbatas kepada para orang tua siswa melalui grup Whatsapp dan saat kegiatan pembagian rapor akhir semester lalu. Para orang tua yang memang menghendaki adanya PTM, menyambut kabar baik tersebut dengan gembira. Neti mengungkapkan bahwa 100% orang tua siswa memberi izin anak-anaknya mengikuti PTM terbatas pada awal September 2021.

Sarana pendukung seperti thermogun, wastafel, masker cadangan, dan cairan desinfektan juga telah dipersiapkan. Para guru bahu secara bergiliran ditugaskan mengawasi peserta didik di sekolah untuk tetap menjaga jarak saat masuk kelas, keluar kelas, maupun saat berada di dalam kelas. Semua ini dilakukan agar protokol kesehatan dapat senantiasa ditegakkan.

Pelaksanaan PTM Terbatas

Baca Juga  Tiga Simbiosis yang Terjadi Dalam Kehidupan: Mutualisme, Komensalisme, dan Parasitisme

Setelah mengantongi izin, sekolah akhirnya dapat menjalankan PTM terbatas. Pihak sekolah menerapkan jadwal masuk sebanyak dua kali untuk setiap jenjang. Kelas VII akan masuk pada hari senin dan kamis, kelas VIII akan masuk pada selasa dan jumat, sedangkan kelas IX akan masuk pada rabu dan sabtu. Setiap jenjang yang mengikuti PTM terbatas akan dibagi ke dalam kelas dengan jumlah siswa sebanyak maksimal 16 orang. Hal ini tentunya sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pemerintah pusat yakni kapasitas kelas maksimal berjumlah 50% dari total siswa di kelas tersebut.

Setiap harinya, PTM terbatas dimulai pada pukul 07.15 – 11.30 atau mencapai 6 jam pembelajaran di sekolah tanpa istirahat keluar kelas. Memasuki area sekolah, para siswa diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu, kemudian mengecek suhu tubuh dengan thermogun, dan wajib menggunakan masker hingga menutup bagian hidung. Mereka memasuki kelas yang telah ditentukan dengan tetap menjaga jarak diawasi oleh para guru yang bertugas hari itu.

Sebagai wakil kepala sekolah yang juga mengajar mata pelajaran matematika, Cahyo Wiyono, mengaku proses belajar menjadi lebih efektif saat tatap muka di sekolah. Menurutnya, pelajaran matematika memiliki tantangan tersendiri ketika disampaikan hanya melalui metode daring.

“Karena saya mengajar matematika, pembelajaran terasa lebih efektif ketika dilakukan secara langsung. Saya bisa menunjukkan dan menggambarkan langsung di papan tulis berbagai konsep maupun hitungan. Daya serap anak-anak juga menjadi lebih tinggi saat PTM terbatas,” jelas Cahyo.

 

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Scroll to Top