Melestarikan Budaya Jawa melalui Pembiasaan di SMPN 1 Seyegan

Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, sangat penting bagi satuan pendidikan untuk tidak hanya memusatkan diri pada mata pelajaran formal, tetapi juga pada pendidikan yang mampu membentuk karakter siswa dan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal. Hal inilah yang berhasil diwujudkan oleh SMPN 1 Seyegan yang terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sekolah tersebut sukses menciptakan identitas unik dengan menjadi sekolah berbasis budaya Jawa.

Salah satu keunikan SMPN 1 Seyegan adalah penggunaan nama tradisi budaya Jawa pada setiap kelasnya. Dengan 20 kelas yang masing-masing memiliki nama berbeda, sekolah tidak sekadar memberikan identitas pada ruang pembelajaran, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam kepada siswa tentang keberagaman budaya Jawa. Inisiatif tersebut secara tidak langsung melibatkan siswa dalam upaya pelestarian budaya lokal.

Setiap Kamis Pahing, ulang tahun sekolah, dan hari besar daerah, seluruh warga sekolah mengenakan pakaian adat tradisional Jawa. Kegiatan pembelajaran di SMPN 1 Seyegan juga sarat dengan penggunaan bahasa Jawa, hal tersebut dapat dilihat dari pelantunan lagu Jawa Siji Loro Telu dan Wiwit Iseh Bayi sebagai pembuka dan penutup setiap sesi pembelajaran. Hal tersebut dapat membiasakan siswa untuk memegang teguh prinsip “Unggah-Ungguh Budaya Jawa”.

SMPN 1 Seyegan juga memberikan fasilitas bagi siswa-siswanya yang tertarik dengan seni budaya tradisional dengan program ekstrakurikuler tari dan karawitan. Tari Nawung Sekar, sebuah tari klasik khas Yogyakarta menjadi salah satu pertunjukan reguler yang memperlihatkan kecantikan gerakan seperti bunga ditiup angin. Begitu pula dengan Kesenian Karawitan “Gending Spetusa” yang menjadi ekstrakurikuler unggulan, mengenalkan siswa pada kelembutan dan kehalusan musik tradisional Jawa.

Sebagai sekolah yang peduli terhadap kelestarian budaya Jawa, SMPN 1 Seyegan merintis sebuah museum budaya yang menjadi wadah pelestarian benda-benda bersejarah dan sebagai sumber informasi pembelajaran. Koleksinya meliputi peninggalan-peninggalan budaya Jawa yang sudah jarang ditemui di masyarakat umum.

Tidak hanya berfokus pada pengetahuan budaya Jawa, SMPN 1 Seyegan juga memberikan pengetahuan kependudukan dan keluarga kepada para siswa dalam kegiatan pembelajarannya. “Sebagai sekolah siaga kependudukan paripurna, kami mengimplementasikan materi kependudukan dan keluarga berencana dalam kegiatan pembelajaran, dan memiliki pojok kependudukan,” ujar Kepala Sekolah SMPN 1 Seyegan Tri Worosetyaningsih.

SMPN 1 Seyegan juga merupakan sekolah yang mengungsung konsep Sekolah Adiwiyata tingkat nasional dengan menerapkan budaya peduli lingkungan bebas plastik. Setiap sudut sekolah maupun ruang kelas tidak disediakan tempat sampah sehingga warga sekolah bertanggung jawab membawa pulang sampahnya sendiri. Bahkan, kantin sekolah pun menyediakan alat makan sebagai upaya konkret dalam mendukung konsep Sekolah Adiwiyata. Kebijakan-kebijakan tersebut diberlakukan tidak lain demi mencegah penumpukan sampah sehingga tercipta lingkungan sekolah yang bersih dan berkelanjutan. 

Sobat SMP, dengan berbagai inisiatif yang telah dilakukan, SMPN 1 Seyegan berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebudayaan lokal dan berkelanjutan kepada setiap warga sekolahnya. Semoga hal-hal yang dilakukan oleh SMPN 1 Seyegan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam membangun lingkungan satuan pendidikan yang mencintai kebudayaan daerahnya masing-masing secara berkelanjutan.

 

Baca Juga  Yuk, Mengenal Batik Estari dari Wonosari

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Scroll to Top