Keris: Jejak Sejarah, Keindahan Seni, dan Simbol Budaya Nusantara

Halo, Sobat SMP! Pernahkah kamu mendengar tentang keris? Keris adalah senjata tradisional yang juga merupakan karya seni dan simbol budaya yang khas dari Nusantara. Tidak hanya berfungsi sebagai senjata, keris juga memiliki makna mendalam dalam kebudayaan, spiritualitas, dan identitas masyarakat Indonesia. Dari ujung Sumatra hingga Maluku dan Nusa Tenggara, keris melambangkan persatuan dan identitas bersama yang mempererat rasa kebangsaan di Nusantara.

Sebagai sebuah karya seni, keris memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Bentuk bilahnya yang berkelok-kelok dan tidak simetris, serta pamor (serat lapisan logam yang tampak cerah) pada bilahnya, menjadikan keris tidak hanya senjata tajam, tetapi juga karya seni yang bernilai tinggi. Keris tidak hanya digunakan sebagai senjata pada masa lalu, tetapi juga sebagai benda upacara dan ornamen dalam busana adat, serta menjadi koleksi bagi mereka yang menghargai keindahannya.

Asal-Usul dan Penyebaran Keris

Keris pertama kali tercatat dalam sejarah pada abad ke-9 Masehi dalam prasasti-prasasti dan relief candi di Jawa. Namun, asal-usul keris yang sebenarnya masih menjadi misteri karena kurangnya sumber tertulis yang deskriptif dari masa sebelum abad ke-15. Keris diyakini berkembang dari senjata tikam yang dipengaruhi oleh kebudayaan Dongson di Vietnam dan kebudayaan Tiongkok Kuno.

Keris modern, yang dikenal dengan bentuk asimetris dan berkelok-kelok, mulai muncul sekitar abad ke-10 Masehi. Pada masa Kerajaan Majapahit, keris mencapai bentuk yang lebih dikenal saat ini, dan penyebarannya meluas seiring dengan perdagangan dan hubungan diplomatik di antara kerajaan-kerajaan di Nusantara. Keris bahkan tercatat dalam UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi sejak 2005, menandai pengakuan internasional terhadap nilai budayanya.

Bagian-Bagian Keris dan Makna Simbolisnya

Keris terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bilah (wilah), ganja (penopang), dan hulu keris (pegangan). Berikut adalah penjelasan singkat mengenai masing-masing bagian:

  1. Hulu Keris (Pegangan Keris): Hulu keris memiliki beragam motif, termasuk motif dewa, raksasa, burung laut, dan penari, yang mencerminkan kepercayaan dan profesi masyarakat di berbagai daerah. Bahan yang digunakan untuk hulu keris bervariasi, termasuk kayu, gading, dan logam. Motif burung, misalnya, sering ditemukan pada keris dari Sulawesi, karena masyarakat setempat yang banyak berprofesi sebagai pelaut menganggap burung sebagai lambang keselamatan.
  2. Wrangka (Sarung Keris): Wrangka adalah sarung yang melindungi bilah keris ketika tidak digunakan. Terbuat dari kayu seperti kayu jati, cendana, atau kemuning, wrangka juga mencerminkan status sosial pemiliknya. Ada dua bentuk utama wrangka, yaitu wrangka ladrang yang digunakan untuk upacara resmi, dan wrangka gayaman yang lebih praktis dan digunakan untuk keperluan sehari-hari.
  3. Wilah (Bilah Keris): Wilah atau bilah keris adalah bagian utama yang menjadi identifikasi suatu keris. Bentuk bilah bisa lurus atau berkelok-kelok (luk), dengan jumlah luk yang selalu ganjil. Bagian ini juga menunjukkan pamor, yang terbentuk dari lapisan logam dalam proses pembuatan.

Keris bukan hanya sebuah senjata, tetapi juga simbol spiritual dan budaya. Misalnya, hulu keris melambangkan kepala, bilah keris sebagai tubuh, dan ganja sebagai penopang, menggambarkan kesatuan yang melambangkan konsep kosmologi dan filosofi kehidupan.

Proses Pembuatan Keris

Baca Juga  Manfaat Mengonsumsi Ikan Laut Bagi Remaja

Pembuatan keris adalah sebuah seni yang melibatkan teknik tempa logam yang kompleks. Berikut adalah ringkasan proses pembuatan keris:

  1. Pemilihan Bahan: Keris dibuat dari logam besi dan bahan pamor seperti meteorit atau nikel. Logam ini dipilih karena kekuatannya dan kemampuan untuk menampilkan pamor yang indah.
  2. Penempaan dan Pelipatan: Bilah besi dipanaskan hingga berpijar lalu ditempa berulang-ulang untuk menghilangkan pengotor. Lalu, bilah dilipat seperti huruf U dan disisipkan lempengan bahan pamor di dalamnya, kemudian dipanaskan dan ditempa lagi untuk menyatukan.
  3. Pembentukan Bilah: Setelah proses pelipatan dan penempaan, bilah dibentuk sesuai dengan desain (dhapur) keris yang diinginkan, apakah berlekuk atau lurus.
  4. Pembuatan Ornamen: Ornamen atau ricikan dibuat dengan menggarap bagian-bagian tertentu menggunakan kikir, gerinda, dan bor. Setiap ricikan memiliki simbolisme dan makna tersendiri.
  5. Penyepuhan: Penyepuhan dilakukan untuk mengeraskan bilah dan menonjolkan pamor. Proses ini melibatkan pencelupan bilah ke dalam campuran belerang, garam, dan perasan jeruk nipis, atau ke dalam cairan seperti air atau minyak kelapa.

Setelah keris selesai dibuat, perawatannya juga penting untuk menjaga keindahan dan keawetan bilah. Keris harus dilapisi dengan minyak agar tidak berkarat dan disimpan dalam wrangka yang sesuai.

Fungsi Keris di Masa Kini

Saat ini, keris lebih banyak digunakan sebagai benda ornamen, koleksi, atau sebagai bagian dari pakaian adat dalam upacara-upacara tertentu. Meskipun demikian, nilai budaya dan spiritual keris tetap kuat. Di beberapa daerah, keris masih digunakan dalam upacara-upacara tradisional dan dianggap memiliki kekuatan magis.

Keris juga menjadi identitas budaya bagi masyarakat Melayu dan simbol status sosial. Dalam budaya Jawa, keris dilihat sebagai “tosan aji” atau benda keras yang luhur, menggambarkan keutamaan dalam bentuk senjata tikam dari masa lalu.

Menarik sekali, bukan? Keris bukan hanya sebuah senjata, melainkan sebuah karya seni yang memuat nilai-nilai luhur dan sejarah yang panjang. Dari masa lalu hingga kini, keris tetap menjadi simbol kebudayaan yang memancarkan keindahan, kearifan, dan keagungan Nusantara. Semoga artikel ini bisa membuat kamu lebih mengenal dan menghargai kekayaan budaya kita sendiri. Teruslah eksplorasi budaya lokal dan banggakan warisan bangsa, Sobat SMP!

 

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/keris-indonesia/

https://indonesia.go.id/kategori/komoditas/281/mengurai-karakteristik-keris

Scroll to Top