Gerakan Dinamis dan Filosofis dalam Tari Piring Minangkabau

Halo, Sobat SMP! Tari Piring adalah salah satu jenis tarian tradisional yang sangat terkenal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Tarian ini memiliki pesona tersendiri yang tidak pernah ketinggalan dalam berbagai acara resmi dan adat masyarakat Minangkabau, seperti pernikahan, penyambutan tamu agung, pagelaran seni, hingga upacara adat. Tari Piring juga telah menjadi simbol budaya Indonesia yang dikenal luas, tidak hanya di tanah air tetapi juga di dunia internasional.

Sejarah Tari Piring

Tari Piring berasal dari Solok, sebuah daerah di Provinsi Sumatera Barat. Menurut sejarah, tari ini telah ada sejak abad ke-12 ketika masyarakat Minangkabau masih menganut kepercayaan terhadap dewa-dewa. Pada masa itu, Tari Piring diperuntukkan sebagai tarian persembahan kepada dewa-dewa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta perlindungan dari marabahaya. Para penari menari sambil membawa piring berisi sesaji, mengayunkannya dengan gerakan dinamis yang penuh makna spiritual.

Seiring waktu, dengan masuknya agama Islam ke Minangkabau, fungsi Tari Piring berubah. Jika sebelumnya sebagai persembahan kepada dewa, kini tarian ini beralih fungsi menjadi hiburan yang ditampilkan pada berbagai acara kerajaan dan pernikahan. Hingga kini, Tari Piring sering kali menjadi atraksi utama dalam berbagai acara hiburan dan upacara adat di Sumatera Barat.

Gerakan dan Makna Filosofis

Tari Piring dikenal dengan gerakannya yang cepat dan dinamis, mencerminkan kehidupan masyarakat agraris Minangkabau yang gigih dan bekerja keras. Terdapat sekitar 20 gerakan dalam Tari Piring yang menggambarkan proses bertani, mulai dari menyiapkan lahan hingga memanen padi. Beberapa gerakan utama antara lain gerak mencangkul, gerak menyemai, gerak menanam, dan gerak memanen. Gerakan-gerakan ini tidak hanya estetis tetapi juga sarat makna filosofis, menggambarkan keharmonisan manusia dengan alam.

Para penari biasanya berjumlah ganjil, antara 3 hingga 7 orang, dan bisa dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan. Mereka menari dengan piring di kedua tangan, mengayunkannya dengan keahlian tinggi agar piring tidak jatuh. Dalam beberapa variasi, penari juga mendentingkan piring dengan cincin di jari mereka, menciptakan irama yang khas. Pada puncak tarian, piring-piring biasanya dilemparkan ke lantai dan para penari akan menari di atas pecahan piring, menunjukkan keterampilan dan keberanian mereka.

Iringan Musik dan Kostum

Baca Juga  Mahir Berbahasa Inggris dengan Modul Pembelajaran SMP Terbuka

Pada awalnya, Tari Piring diiringi oleh alat musik tradisional seperti rebana dan gong. Namun, seiring perkembangan zaman, musik pengiringnya juga mengalami perubahan. Kini, talempong dan saluang sering digunakan, bahkan terkadang diiringi alat musik modern seperti keyboard untuk menambah variasi dan kekayaan suara. Tempo musik awalnya lembut dan teratur, kemudian semakin cepat seiring intensitas tarian.

Para penari mengenakan kostum berwarna cerah, dominan merah dan kuning keemasan, yang melambangkan semangat dan kemakmuran. Pakaian ini sering kali dihiasi dengan ornamen-ornamen tradisional dan tutup kepala khas Minangkabau, menambah keindahan visual dari tarian tersebut.

Popularitas dan Pengaruh Tari Piring

Tari Piring tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Minangkabau, tetapi juga merupakan salah satu tarian yang mempromosikan budaya Indonesia di kancah internasional. Bersama dengan tari Saman, Pendet, dan Jaipong, Tari Piring sering ditampilkan dalam berbagai ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu tokoh yang mempopulerkan Tari Piring adalah Huriah Adam, yang berjasa dalam membawa tarian ini ke panggung nasional dan internasional.

Tari Piring bukan sekadar tarian tradisional, melainkan sebuah cerminan dari kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau. Melalui gerakan-gerakannya yang dinamis dan penuh makna, Tari Piring mengajarkan kita tentang kerja keras, rasa syukur, dan keberanian. Sebagai salah satu identitas budaya Indonesia, Tari Piring akan terus dipertahankan dan dikembangkan, memastikan bahwa pesonanya tetap hidup dan terus memukau penonton di seluruh dunia. Dengan demikian, Tari Piring tidak hanya menghubungkan kita dengan masa lalu, tetapi juga menginspirasi masa depan seni dan budaya Indonesia.

 

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/tari-piring-tarian-tradisional-khas-minangkabau/

https://kemlu.go.id/kabul/id/read/tari-piring/418/information-sheet

Scroll to Top