Direktorat SMP Dorong Pembelajaran Berdiferensiasi di Satuan Pendidikan

Sampai hari ini, learning loss akibat pandemi COVID-19 masih terjadi. Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melakukan berbagai upaya untuk memulihkan pembelajaran salah satunya dengan meluncurkan Kurikulum Merdeka dan mengenalkan konsep pembelajaran berdiferensiasi.

Oleh karena itu, Direktorat Sekolah Menengah Pertama menggelar kegiatan Webinar Series Upaya Pemulihan Pembelajaran #1 dengan topik Optimalisasi Potensi Siswa melalui Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kamis (27/10). Webinar disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube milik Direktorat SMP.

Kegiatan dibuka oleh Plt. Direktur Sekolah Menengah Pertama, I Nyoman Rudi Kurniawan. Pada kesempatan tersebut, Plt. Direktur Sekolah Menengah Pertama menyampaikan secara singkat mengenai strategi pemulihan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi literasi numerasi.

“Kemendikbudristek telah merancang empat strategi pemulihan pembelajaran. Yang pertama melalui penyediaan SDM berkualitas, yang kedua melalui program Kampus Mengajar yang ketiga melalui Platform Merdeka Mengajar, dan terakhir melalui optimalisasi peran UPT Kemendikbudristek di daerah,” ungkap Nyoman.

Materi pertama mengenai konsep penguatan pembelajaran berdiferensiasi dan keselarasannya dengan prinsip pembelajaran disampaikan oleh Dosen Universitas Lambung Mangkurat, Susanti Sufyadi. Susanti menyampaikan prinsip utama dari pembelajaran berdiferensiasi.

“Pembelajaran berdiferensiasi itu selaras dengan prinsip equity. Kita tidak memberi hal yang sama kepada peserta didik. Karena kebutuhan peserta didik berbeda-beda. Karakternya juga berbeda-beda. Kalau pembelajaran kita samakan, itu artinya kita memaksakan suatu cara yang belum tentu cocok dengan peserta didik,” tutur Susanti.

Hadir menjadi salah satu narasumber, Rohimah Maliki selaku Kepala SDN 02 Pancor Lombok Timur menjabarkan aksi nyata pembelajaran berdiferensiasi di sekolahnya. Menurutnya, pihak sekolah fokus menciptakan kondisi yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

“Awalnya kami menerapkan konsep pembelajaran berdiferensiasi karena adanya keterbatasan ruang kelas, sehingga kami kerap mengajak anak-anak belajar di luar kelas. Kemudian kami juga melihat terdapat gaya belajar yang beragam dari peserta didik, sehingga tidak bisa kami samakan. Pada intinya kami mencoba membuat merasa aman dan nyaman di mana pun mereka belajar. Kami juga memberikan pendampingan bagi peserta didik sesuai dengan bakat dan minat mereka,” papar Rohimah.

Kepala SMP Labschool Kebayoran, Yati Suwartini yang juga sebagai narasumber turut berbagi aksi nyata pembelajaran berdiferensiasi di SMP Labschool Kebayoran. Yati menjelaskan strategi pembelajaran berdiferensiasi yang telah diterapkan.

“Strategi mendiferensiasi pembelajaran di sekolah kami dilakukan melalui diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten kami sesuaikan dengan kesiapan belajar anak. Bila anak membutuhkan bantuan lebih guru sudah menyiapkan lembar kerja khusus. Untuk diferensiasi proses, kami mengacu dari hasil asesmen. Guru akan menyiapkan bahan-bahan ajar yangs sesuai dengan profil peserta didik. Sedangkan untuk diferensiasi produk dari hasil belajar. Misalnya guru sedang membahas mengenai teks prosedur. Maka nanti anak yang suka mendesain bisa membuat prosedurnya dalam bentuk poster. Sedangkan anak yang suka memasak bisa membuat teks prosedurnya mengenai langkah-langkah memasak,” tutup Yati.

 

Baca Juga  Asesmenpedia Sebagai Bentuk Kolaborasi Asesmen Kreatif dan Inovatif di Masa Pandemi

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Scroll to Top