Berkebun Bersama SMPN 2 Balong Kabupaten Ponorogo

Memiliki lahan yang luas adalah suatu hal yang didambakan oleh setiap sekolah. Hal tersebut dimiliki oleh SMPN 2 Balong Ponorogo. Sekolah yang terletak di pinggiran kabupaten Ponorogo itu mempunyai lahan seluas 14.925 m2.

Luasnya lahan tersebut dimanfaatkan untuk melakukan penghijauan. Kini, lahan sekolah terlihat asri dan hijau karena dipenuhi dengan aneka tanaman produktif, antara lain pepaya, pisang, ketela, dan aneka sayuran. Sedangkan jenis tumbuhan lainnya seperti black singkong, jambu madura, jambu citra, dan lain-lain. Terdapat pula kelengkeng, mangga, dan juga sawo. 

Program produktif yang bernama Kebun Sekolah ini diinisiasi oleh kepala SMPN 2 Balong, Drs. Sudarto yang sudah memimpin sekolah selama 3 tahun terakhir. Awalnya program ini dikhususkan untuk peserta didik inklusi tetapi kemudian seluruh warga sekolah ikut berpartisipasi. Pelibatan guru pembimbing, orang tua serta masyarakat sekitar juga diperlukan untuk mendukung kesuksesan Kebun Sekolah. 

 

Mengapa berkebun?

Selain lahan yang luas, masyarakat sekitar sekolah memiliki aktivitas bertani dan berkebun sehingga hal ini bukan merupakan sesuatu yang asing bagi siswa. Berkebun pun dapat mengembangkan potensi akademik sekolah juga mengembangkan potensi non akademik.

Kebun Sekolah merupakan kegiatan ekstrakurikuler, terutama untuk pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Kebetulan sekolah yang beralamat di Jl. Dukuh Jugo, Sumberejo, Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini memiliki beberapa siswa inklusi.

Aktivitas yang dilakukan Kebun Sekolah adalah menanam aneka tanaman di lahan sekolah yang belum termanfaatkan. Selain itu, program ini juga mengajarkan keterampilan mencangkok batang, mencangkok pucuk, menyetek, serta membuat pupuk organik cair (POC).

Siswa juga diajarkan membuat POC. POC berfungsi untuk merangsang pertumbuhan bunga maupun buah. Bahan baku didapat dari sumbangan para siswa. Jika siswa memiliki buah yang sudah tidak layak dimakan maka dapat dibawa ke sekolah untuk menjadi bahan baku POC. Selain itu sekolah juga mendapat bahan baku dari pedagang buah yang buah-buahnya tidak terjual karena rusak. Jadi sekolah tidak perlu mengeluarkan modal khusus untuk membuat POC.

Selain POC, kompos pun mulai dibuat. Bahan baku didapat dengan memanfaatkan dedaunan yang dikumpulkan oleh Pak Kebun di sekolah. Kompos bermanfaat sebagai media tanam alami yang dapat membantu menyuburkan tanah sehingga unsur hara dan mineral tercukupi. Diharapkan dengan pemberian kompos dapat menyehatkan dan menambah produktivitas tanaman. Sementara ini POC dan kompos masih digunakan untuk konsumsi sekolah.

Peserta didik yang terlibat dalam Kebun Sekolah sangat antusias, terbukti dengan keterlibatan mereka menyiangi, menyiram serta merawat tanaman. Hingga saat ini hasil jerih payah yang sudah bisa dinikmati dari berkebun adalah singkong.

Siswa juga diharapkan menjadi terampil dalam berkebun, mencangkok, menyetek. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal hidup siswa di masa yang akan datang. Program Kebun Sekolah ini sesuai dengan kecakapan abad 21 yang mendidik siswa menjadi dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan dunia global.

Selain itu lokasi sekolah yang terletak di perdesaan sangat mendukung pembangunan desa melalui kegiatan berkebun ini. Semoga program berkebun ini menambah kearifan lokal dan mampu memotivasi serta mengubah pola pikir siswa.

 

Baca Juga  Sulaman Kerawang khas Gorontalo Yang Mendunia

Penulis: Noprigawati (Analis Pelaksanaan Kurikulum di Direktorat SMP)

Scroll to Top